Thea melenggang masuk ke dalam kamarku, sedangkan aku sedang berganti baju jadi kaget, “Kalau pakai baju ini gimana?” Thea mematutkan diri di depan cermin besar di kamarku, dia pakai blus merah, celana jins hitam, dan sepatu flat. Aku sih diam aja, “Nggak apa-apa sih, bagus juga.” Walaupun dalam hati aku cuma bilang, biarin aja deh, yang penting dia nggak pake baju aneh-aneh. Kalau tidak salah aku memakai singlet hitam, legging hitam, dan sepatu high heels ku yang baru. Aku selalu tidak lupa untuk membawa kartu identitas dan sejumlah uang sekedar berjaga-jaga.
“Tunggu aku dong!” Ruri berlari turun dan kami bertiga pergi ke kos Velita, kami malam itu berencana untuk pergi ke pub yang sering dikunjungi anak-anak muda, Restricted. Denise dan Velita sedang berdandan sedangkan Lanny sudah siap menunggu kami bertiga, dia santai saja mengenakan tanktop satin warna ungu dipadukan celana jins ketat biru tua model pensil dan sandal berhak rendah. “Yo, sudah siap?”
Ruri tampak bersemangat, kalau kulihat dandanan paling amburadul ya dia itu, entah kenapa dia mengenakan minidress warna pink dengan belahan dada rendah, dan eyeliner seperti sari burung gagak mati dibubuhkan tebal-tebal ke situ. Thea tampak kaget lalu bimbang seolah dandanannya ada yang salah, aku menggandeng tangannya kemudian kami tertawa-tawa setelah kubilang dandanan Ruri yang amburadul itu.
Akhirnya Denise dan Velita sudah siap, Denise memakai cocktail dress yang sebenarnya gak jauh beda dengan gaun tidur satinnya. Sedangkan Velita sepertinya memakai rok mini milik adiknya, tahu kan cuma menutupi celana dalam, untung dia masih mengenakan legging hitam sobek-sobek. Aku jadi ingat sendiri ketika pertama kali pergi ke pub rasanya heboh banget, tapi nyatanya sekarang aku sudah merasa bosan dengan dresscode tak tertulis yang seolah-olah menyuruh cewek-cewek berdandan super seksi dan minim untuk ke pub. Kita kan cuma having fun, ngapain dandan-dandan kayak cewek-cewek kegatelan minta diraba-raba.
Mobil Kijang Lanny melaju ke Restricted yang lokasinya di pub underground sebuah hotel bintang 4. Disitu banyak anak-anak kuliahan juga yang ternyata satu universitas dengan kami, ternyata mahasiswa-mahasiswa universitasku memang sengaja nongkrong disitu tiap minggu, apalagi kalau hari Senin atau Rabu uang masuknya hanya 50% dari harga biasanya jadi kalau tidak cepat-cepat datang, pasti jam 10 sudah penuh.
Kami berhasil masuk sekitar jam 11, dan lantai dansa sudah penuh dengan orang-orang separuh mabuk yang berdansa mengikuti irama musik sampai yang bergerak tidak jelas. Apa ada yang menggunakan narkoba? Aku tidak mau tahu. Welcome drink kami masing-masing mendapat segelas besar bir, dan tempat-tempat yang dituju oleh anak-anak justru bukan tempat VIP di lantai II, kami lebih suka nongkrong-nongkrong di lantai bawah dan duduk di meja-meja yang berada di pinggir lantai dansa.
Thea melihat sekeliling sambil duduk memegangi tas tangannya, dan satu tangannya meletakan segelas besar bir dingin yang masih berbusa hingga menetes keluar dari mulut gelas. Dia melihat sekelilingnya, ada beberapa kelompok seperti segerombolan cewek-cewek berdandan seksi dan tampak glam, gerombolan cowok-cowok mengenakan kemeja slimfit menampakkan dadanya, atau rombongan anak-anak berpakaian ala hip-hop, bahkan ada cewek yang sepertinya teler berdansa bersama pasangannya yang juga mabuk tapi masih setengah sadar kebingungan ingin mengajak ceweknya untuk berhenti berdansa karena sudah bolak-balik hampir jatuh.
“Welcome to nightmare The, kayak gini-gini aja pub itu, aku saranin jangan sampai mabuk lhoh, ingat kamu pergi untuk bersenang-senang bukan untuk mabuk-mabukan seperti orang gila.” Aku menyalakan rokokku dan menyesap sedikit bir, Thea mengangguk-angguk dia juga minum sedikit tiba-tiba wajahnya mengkerut. “Astaga, rasanya agak aneh ya?” begitu komentarnya setelah menelan satu teguk bir. Aku tertawa melihatnya, dia memang sangat polos, tapi aku kenapa tidak menghentikannya pergi kemari ya? Aku pikir dia harus tahu, hanya sekedar tahu supaya dia tidak terjerumus terlalu dalam dengan gaya bersenang-senang cara seperti ini. Tapi aku yang tidak tahu kalau tidak mungkin aku bisa memantaunya setiap waktu, sekali meleng dia bisa tiba-tiba melarikan diri.
Ruri sudah mulai dansa-dansa dengan centil bersama Velita di sebelah meja penuh cowok, Denise ternyata bertemu dengan teman-temannya yang lain dan tunangannya. Hanya Thea, Lanny dan aku yang masih duduk-duduk di meja sambil merokok dan ngobrol sedikit-sedikit. Susah sekali untuk ngobrol dengan suara musik sangat keras, hanya saja tiba-tiba ada separuh botol Martell Cognac dari meja sebelah, mereka memberi isyarat berbagi dengan kami, cowok-cowok yang aku dan Thea tidak kenal, tetapi sepertinya Lanny dan Denise sudah mulai akrab.
“Ayo, ayo, diminum dong, nggak apa-apa kok!” Denise berteriak keras di meja kami, dia membagi-bagikan gelas kecil yang diisi seperempat gelas, kemudian ditambahkan Coca Cola. Velita dan Ruri kembali waktu jeda diisi oleh DJ, mereka langsung disodori minuman sama Denise, “Jangan banyak-banyak yah, buat coba-coba aja dulu!” kata Denise mengedipkan sebelah matanya lalu membawa dua gelas ke tempat tunangannya. Ruri langsung meminum habis satu gelas, Velita minum sedikit-sedikit, mereka tampak berkeringat dan tertawa-tawa sambil berjoged kecil-kecil. Tangan Thea ditarik oleh Velita terus mereka mengajaknya berdansa kecil ditempat, sedikit demi sedikit dia mulai menikmati hentakan-hentakan bas yang memukul dada dan musik trance yang cepat.
Aku mengamati sambil meneguk beberapa gelas minuman, dan memperhatikan Lanny hanya meminum bir itu saja nggak habis-habis. “Aku nggak boleh mabuk dong, nanti yang nyetir mobil siapa?” begitu jawabnya sederhana, tapi aku baru menyadari ternyata orang ini nggak sejelek yang aku kira. Tiba-tiba Thea meminum satu gelas… Dua gelas… Tiga gelas… Bersama Ruri dan Velita kembali ke lantai dansa setiap habis minum, berjoged ketika band menyanyikan lagu dari Agnes Monica – Temperature terus berlanjut ke lagu Lady Gaga – Poker Face.
Wajah polosnya yang mulai mabuk sesekali tersorot kamera dan tampil di layar besar di atas panggung, Thea tersenyum dan pipinya yang kemerahan tampak menonjol dengan blus warna merahnya, seperti anak kecil bermain di kolam bola. Di layar itu aku melihat sekelilingnya yang suram seperti ikut bersemangat melihat anak itu melompat-lompat dan menggerakan badan seenaknya mengikuti musik sambil sesekali ikut menyanyikan lirik yang dia hapal.
Velita tampak setengah teler dan aku yakin dalam hitungan menit dia akan terjatuh, kalau tidak ada yang menyanggahnya pasti dia akan terbaring terinjak-injak.
Ruri sudah kehabisan nafas tapi masih berusaha tampak seksi walaupun tali Victoria Secret-nya sudah lunglai dari pundaknya yang gempal.
Lanny masih cuek merokok sambil ngobrol-ngobrol dengan cowok dari meja sebelah yang sudah mulai sesekali meraba lututnya.
Denise tampaknya sudah high gara-gara ekstasi? Entahlah, dia tampak misterius dengan wajah kemerahan karena mabuk dan matanya yang jelas-jelas tidak fokus bergelanyut di pelukan tunangannya yang mengajaknya pergi dari situ.
Jam sudah merangkak menuju angka 2, aku tahu kalau mereka tidak bisa bertahan sampai dini hari. Harusnya waktu itu kami segera pulang… Karena pertengahan lagu berikutnya Velita ambruk dan berakhir dengan muntah-muntah di toilet.
* * *
end I/2
(bersambung ke II/1)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar