Bab I
Awal yang Salah
“Emangnya film porno itu seperti apa sih?”
Kalau masyarakat Barat selalu berkata usia 13 tahun adalah usia ABG labil terutama anak-anak cewek, setidaknya di dalam film sih begitu, tetapi di negaraku ini anak masih bau kencur saja dinikahi oleh bapak-bapak tua beristri dua. Intinya sih anak-anak remaja di Indonesia memang sangat kompleks, dan bagi Thea Calista usia awal 20-an tahun adalah masa-masa labilnya yang kelam.
Pertama kali dia memakai high-heels, merokok, mabuk berat, hangover, dan akhirnya muntah-muntah di kamarku semuanya ketika dia beranjak usia 20. Pertama kalinya dia melakukan seks tak lama setelah dia berulang tahun ke 20, dan beberapa bulan berikutnya pertama kalinya dipukul cowok dan nyaris bunuh diri. Aku tahu semua itu karena aku berada di sana, dipaksa untuk tidak bisa berbuat apa-apa dengan kelakuannya, mungkin aku ini contoh gagal seorang sahabat.
Aku sudah lama tidak bertemu dengan dia, terakhir aku lihat dia sedang berada di rumah sakit terkena demam berdarah. Padahal keluarga kami dekat karena berasal dari kota yang sama, kalau liburan kami juga sering pulang bareng naik kereta atau pesawat. Tetapi aku memang sudah kehilangan kontak sejak Thea keluar dari rumah sakit, yang kudengar hanya rumor-rumor dan rumor. Di Surabaya siapa yang tidak mengenal Thea? Lucunya orang tua Thea sama sekali tidak tahu kelakuan Thea yang semakin lama semakin sulit diatur, warga kota asal kami sendiri kayaknya juga ada selentingan gossip tapi entahlah kenapa orang tuanya begitu acuh. Penuh dengan penyangkalan dan selalu mencari kambing hitam untuk menutup kebobrokan anaknya sendiri.
Kota asal kami tidak kecil tidak besar, tetapi semua orang tahu kalau keluarga Thea adalah perusahaan properti terbesar dan otomatis orang terkaya di kota. Ketika semua anak masih bermain petak umpet atau congklak, Thea sudah dibelikan sebuah Super Nintendo. Ketika semua anak belajar mengetik dengan mesin ketik, Thea sudah punya komputer windows. Ketika orangtua teman-teman Thea punya ponsel, Thea sudah punya ponsel pribadi. Awalnya bertemu Thea itu gara-gara satu SD sama dia, walaupun selalu mendapatkan apa pun lebih dulu bukan berarti menjadikannya populer, apalagi kalau bilang penampilan? Dia kayaknya puber aja telat.
Thea Calista berbeda denganku, walaupun keluargaku tidak sekaya keluarga Thea, sejak SMP aku sudah disekolahkan di kota besar. Kehidupan di kota besar tidak selamban di kota yang lebih kecil. Walaupun masa-masa puberku lebih brutal, tetapi kita kan sedang membicarakan Thea bukan aku, ya kan? Thea dan aku kembali bertemu di SMU, tentu saja aku merasa senang, tapi teman-temanku menganggap Thea udik. Wah, apa boleh buat, teman-temanku ini memang asli korban mode abis, dan tentu saja ini pendapatku pribadi mereka suka sekali membanggakan cowok-cowok baru mereka dan menjadi drama queen ketika mereka putus.
Gita Kusuma berambut ikal berwarna agak kemerahan karena diam-diam disemir tanpa diketahui pihak sekolah, caranya memakai seragam seolah-olah seperti akan pergi ke mall. Dia sepertinya memakai hampir semua aksesoris terbarunya untuk ke sekolah dan kadang-kadang sepatu ankle boots dipakai ke sekolah, roknya sangat pendek dan jauh dari lutut yang seharusnya seragam sekolah sarankan, blusnya dibuat agak ketat dan dia suka melepas 2 kancing baju teratasnya dengan alasan kepanasan.
Guru-guru sampai capek menegur, bahkan sudah melayangkan surat panggilan orang tua tetapi tidak pernah ada yang datang. Aku berani taruhan pihak sekolah tidak menegur walaupun orangtua Gita tidak datang karena orangtuanya yang sangat super sibuk menangani perusahaan air minum kemasan dan mamanya yang doyan belanja serta ngerumpi bersama teman-teman seklubnya itu, memberikan sumbangan untuk sekolah yang cukup besar. Tetapi itu juga menjadi jawaban setelah beberapa waktu aku sudah tidak naïf lagi, Gita yang super bego dan nggak suka sekolah, bahkan lebih sering curi-curi waktu untuk ber-smsan dengan cowoknya yang sudah kuliah, selalu naik kelas dengan ranking yang jauh dari juru kunci tetapi juga tidak masuk 10 besar. Rahasianya? Uang “sumbangan” dan tentu saja kunci jawaban yang dia beli.
Ruri Aubrecia pesolek ulung, dia selalu membanggakan barang-barangnya yang bermerk sampai ke benda paling sepele sekalipun seperti kuku palsu. Tambahkan juga bra Victoria Secret berukuran D yang selalu dia banggain, “Kan kalian golongan kain katun. Gue dong Victoria Secret!”. Mungkin dia sendiri juga nggak sadar, kalau dia selalu patah hati hampir tiap bulan, dan dalam waktu seminggu sudah dapat pacar baru yang mau menjadi pacarnya karena payudaranya yang besar. Kalau dipikir-pikir hampir semua anak cowok di sekolah pasti paling tidak sudah pernah satu kali saja merasakan apa yang berada di balik Victoria Secret cup D itu. Anggap saja Gita dan Ruri memang bukan teman terbaik yang seharusnya aku bergaul, tetapi percayalah mereka masih memiliki rasa setia kawan, dan waktu itu aku tidak merasa kalau mengenalkan Thea pada mereka adalah langkah awal dari kesalahan walaupun tidak sepenuhnya.
Dibandingkan dengan teman-teman SMU-ku yang seperti itu, Thea yang dulu tampilannya jauh dari modis, bahkan dia nyaris tidak pernah mengenakan make up. Mubazir banget kan? Tubuhnya segar berisi, kukunya tidak pernah dipoles dengan cat kuku, rok sekolahnya walaupun seperti karung menutupi dua lututnya dengan rapi. Aku juga masih ingat kenapa aku sampai sekarang ingin sekali melindunginya, seperti dia adalah saudaraku sendiri. Thea memiliki mata yang cemerlang menampakan kecerdasannya, dan bila dia tersenyum rasanya memberikan daya tarik bagi orang lain untuk ikut merasakan keramahan yang sangat polos. Bahkan aku berpikir kalau dia sedih rasanya kita pun juga ingin menangis
Jadi saat itu aku merasa jatuh hati padanya, bukan berarti aku ini lesbian, karena kutemukan sesuatu yang kuanggap langka di dunia ini. Kejujuran dari polah, tingkah laku, dan kata-kata Thea semuanya mengingatkan aku pada masa kanak-kanak ketika tidak ada kemunafikan.
Selama SMU setidaknya Gita dan Ruri berhasil membuat Thea jadi peduli penampilan sedikit, dia berani berdandan dan berkenalan dengan cowok. Walaupun nggak pernah mendapat pacar, atau lebih tepatnya Thea merasa takut untuk berpacaran. Tapi syukurlah dia nggak takut sama bedak compact dan lip gloss. Pelahan-lahan kecantikan Thea mulai muncul karena wajahnya jadi lebih bersih dan terawat, dia nggak perlu make up tebal-tebal untuk menutupi noda-noda di muka toh wajahnya memang tidak ada bekas jerawat, malah mirip kulit bayi.
Kalau kebodohan itu nular rasanya nggak mungkin, tapi gara-gara Gita kadang-kadang Thea jadi malas, padahal aku yakin kalau Gita emang IQ-nya jongkok, tapi Thea itu kan pinter dia sering dapat rangking paling tidak 10 besar. Ruri dilain sisi tampang pas-pasan, otak pas-pasan, lebih suka bercerita tentang hal-hal dramatis yang terjadi antara dia dan cowok-cowoknya, ternyata belajar juga walaupun setengah mati kayaknya hanya supaya naik kelas.
Gita dikuliahkan di Amerika, sedangkan aku, Thea, dan Ruri masuk ke sebuah Universitas ternama di Surabaya, walaupun beda jurusan kami bertiga berada di kos yang sama. Jadwalku sangat padat karena jurusan Desain Komunikasi Visual pada awal-awal semester penuh tugas dan jadwal studio, biasanya Thea, Ruri, dan aku makan malam bareng. Cuma Ruri sepertinya sudah berhasil menggaet cowok baru lagi dari jurusan Elektro, jadi mungkin dia akan mengulang rutinitas selama SMU di Universitas. Thea jadi sering kesepian di kos, kurasa dia juga mendapat teman-teman baru di jurusannya Ilmu Komunikasi, kurasa dia ada sedikit kesulitan untuk bergaul dengan gaya hidup teman-temannya.
Ternyata masalah jurusan di masa kuliah, atau tepatnya di Universitasku, kamu bisa menebak-nebak kok anak-anak mana dari jurusan mana. Kalau mau cewek atau cowok yang super modis tinggal jelalatan aja di jurusannya Ruri, jurusan Ekonomi. Cewek dan cowok berseragam berarti mereka anak perhotelan, kalau pakaiannya agak ketinggalan jaman bisa dipastikan antara jurusan bahasa atau tehnik, sedangkan pakaian yang bermerk tapi penampilannya pada kusut biasanya anak-anak seni dan desain, tapi jurusan yang terkenal dengan cewek-cewek cakepnya ada di jurusan Ilmu Komunikasi dan Psikologi.
Kalau dari kakak-kakak kelasnya saja sudah seperti itu, jadi bisa dilihatkan dampaknya ke anak-anak baru? Apalagi jurusan Thea di Ilmu Komunikasi cewek-ceweknya rame, lincah-lincah, dan sangat modis sepertinya Thea jadi minder. Aku ingat, Thea tiba-tiba menuju kamarku untuk meminjam pakaianku ketika aku diam-diam merokok.
“Mel, aku mau pinjam pakaian dulu dong, aku nggak punya kemeja bagus buat kuliah siang ini.” Dia langsung ngeluyur tanpa sadar kamarku bau asap rokok, baru akhirnya dia menoleh sambil menutup mulutnya, “AH! Kok ternyata kamu merokok sih???” dan terpaksa aku bilang padanya kalau aku nggak pencandu kok, jarang-jarang aja merokoknya terutama kalau lagi stress sama tugas-tugas kuliah. Dia percaya sih, tapi sepertinya aku memang tidak memerhatikan kalau dia juga memerhatikan dengan penuh rasa ingin tahu pada bungkus rokok yang tergeletak di atas mejaku.
“Kamu jangan ikut-ikutan ah. Aku sendiri ingin berhenti kok, padahal aku ngerasa belum kecanduan, tapi kalau lagi pingin ya beli juga akhirnya.” Alasan. Apa boleh buat aku memang selalu berjanji pada diriku untuk berhenti menghisap asap sialan itu tapi selalu gagal. Kemudian aku membantu-bantu dia memilihkan baju yang cukup di badannya, yah, secara aku memang lebih kurus.
“Kamu jadi kurus gara-gara mengganti makan dengan rokok ya?” Ok, itu pertanyaan yang kupikir konyol yang pernah ku dengar dari mulut Thea, “Aku pernah baca kalau model-model yang ingin kurus atau artis yang sedang diet mengganti makan dengan rokok.” Dia ngoceh seolah-olah menemukan jalan keluar untuk cepat kurus, dan kayaknya kok ide itu tertanam entah dari belahan Negara mana gitu? Kayaknya Thea terlalu sering menonton film-film atau membaca majalah gosip artis luar yang biasanya memakai heroin atau kokain, merokok seperti kereta api, dan hanya minum Red Bull supaya badannya berenergi. Dia pikir merokok tidak memiliki dampak besar kalau ingin berdiet, maksudnya tidak sebesar heroin atau kokain, toh mana mungkin bisa mendapatkannya dengan mudah seperti artis-artis luar negeri.
“Dengar ya, tidak ada hubungannya antara nafsu makan dan rokok, kalau namanya nafsu makan besar tetep aja makannya banyak. Itu sih namanya pelarian diri karena nggak bisa makan, kan mereka sedang memaksakan diri untuk diet padahal sudah kurus.” Jelasku sambil memberikan 2 setelan kemejaku untuk dicoba. Aku sendiri curiga, apa jangan-jangan dia mulai diet? Karena aku jarang melihatnya, kurasa dia sudah mulai kurusan
Teman-teman baru Thea sepertinya sedikit banyak juga memberi pengaruh padanya. Di kos seberang, teman-teman Thea yang baru berada. Denise adalah pekerja bank swasta, aslinya berasal dari Lombok, cewek penampilan galak, kurus kecil, kulitnya putih, dia suka mengenakan gaun tidur satin yang seksi waktu di kos. Sayang sekali dadanya kecil jadinya gaun tidur itu jadi nggak kelihatan bagus dipakai sama dia. Yang aku ingat dari dia adalah alisnya yang dicukur habis dan digambar dengan pena alis berwarna coklat seperti warna rambutnya yang dicat pirang coklat. Bayangkan saja kalau kamu melihatnya di pagi hari atau setelah mandi di malam hari. Thea sudah pernah lihat, dan dia bilang sulit sekali untuk menghapus ingatan itu, jadi kalau aku sudah mengalami cuci otak mungkin aku masih trauma melihat sesuatu yang tampak bulat polos sama seperti yang dia bilang padaku.
Kemudian ada Velita yang satu jurusan sama Thea, anaknya suka bersikap manis dan centil yang rasanya dibuat-buat, rambutnya panjang dicat merah marun, kulitnya sedikit lebih muda dari sawo matang, terlalu gelap untuk seorang keturunan China. Apalagi giginya agak tonggos, tubuhnya kurus kecil tapi perutnya agak buncit. Ruri langsung bisa cocok dengan Velita, apalagi kalau sudah ngomongin cowok mereka bisa curhat-curhatan sampai lama banget. Aslinya orang desa tuh, dari kota kecil sampai kalau dibilang kota aja juga nggak bisa, cuma dia adaptasinya cepet banget, begitu sampe kota besar gini langsung permak abis-abisan.
Ditambah satu lagi, Lanny, dia juga dari Lombok, masih kuliah semester 7 dan membawa mobil sendiri di kos. Tampangnya sih biasa saja, malah agak tomboy kurasa dia pribadi yang menyenangkan tapi caranya dia ngomong kadang-kadang aku nggak paham gara-gara logatnya.
Baru dua kali Thea, Ruri, dan aku kongkow di sana, Velita tiba-tiba bertanya blak-blakan, “Emangnya film porno itu seperti apa sih?” pertanyaan ini langsung disambut ketawa sama Denise, Lanny, dan Ruri. Thea terpekik lalu melihat padaku sambil menampakan wajah kaget tapi penasarannya itu, aku cuma tersenyum saja dan dalam hati bertanya-tanya apa Velita memang sepolos itu? Yang jelas aku tahu kalau Thea belum pernah melihat hal-hal seperti itu, jangankan berciuman pegangan tangan saja belum pernah.
“Kamu beneran belum pernah lihat?” pancing Ruri sambil tersenyum nakal, “Waduh gawat dong?” lalu tertawa-tawa sok tahu sambil melihat Denise yang berdiri lalu masuk ke kamar, dan keluar sambil membawa satu keping dvd polos.
“Nah ini nih, film kesukaanku, udah lihat aja yuk. Kepalang tanggung, sekalian lah kan sudah ada yang nanya.” Sambil memasukkan dvd ke player dia mengambil asbak di sebelah TV lalu menyalakan rokoknya dan duduk kembali ke sofa.
Aku bisa melihat kalau Thea dan Velita jadi grogi dan agak malu-malu, Lanny memukul pundak Denise sambil senyum-senyum geli, “Ah, ngawur lu, gila aja sore-sore gini pasang bokep!” Aku tidak pernah benar-benar tertarik dengan film porno seperti itu, jadi kupikir itu tidak merusak asal mereka masih berakal sehat saja, terutama yang aku khawatirkan Thea.
Beberapa adegan sudah dilalap habis sambil melongo oleh Velita dan Thea yang sekali-sekali merasa terjijik-jijik, dan anehnya justru si Ruri yang jadi nggak bisa diam dan mukanya kemerahan. Denise malah seperti narator yang sekali-kali menjelaskan cerita dari adegan-adegan tersebut. Lanny nggak begitu tertarik dia lebih konsentrasi dengan ponselnya, sms-an dengan pacarnya mungkin? Setelah selesai melihat sepertinya mereka cukup shock.
“Gila… Apa hubungan seks manusia itu seperti itu sih? Aku kok malah jadi merinding gitu…” Thea membuka bicara ketika kami bertiga balik ke kos malam-malam sambil bawa nasi bungkus untuk dimakan.
“Ih… udah deh, itu pengetahuan tahu, biar nanti kalau kmu udah punya suami tahu harus ngapain.” Ruri tergelak-gelak sampai badannya berguncang, dalam hatiku aku punya firasat kalau Ruri kayaknya nggak bakal betah nunggu sampai punya suami, aku nggak akan kaget kalau tiba-tiba beredar video porno dengan tokoh utama Ruri dan cowok tak dikenal. Bukannya aku jahat, justru aku sudah mewanti-wanti Ruri supaya hati-hati sama cowok soalnya dia gampang banget ngasih segalanya sama pacar yang umurnya nggak pernah lebih dari sebulan, rekor terlama aja 3 bulan.
“Udahlah, nggak usah dibahas. Seks itu kalau kamu memang nantinya sudah rumah tangga. Lagian aku pikir ngelihat film porno kayak gitu cukup jadi tahu aja. Jangan sekali-kali memberikan apa pun sama cowokmu kalau kalian belum ada ikatan perkawinan. Mereka itu kalau sudah dikasih hati sedikit aja langsung ngelunjak.” Wah, kayaknya bijaksana banget deh aku waktu itu, Thea langsung mengangguk-angguk setuju, dan Ruri cuma balas ketawa-tawa...
end I/1
(bersambung ke I/2)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar