Bab II
Pacarnya Thea
“Aku ngelakuin itu sama dia, aku nggak tau kenapa…”
Semakin aku sibuk dengan tugas-tugasku, semakin sibuk Thea dengan Ruri, Velita, Lanny, dan Denise. Walaupun akhir-akhir ini Denise dan Lanny sudah jarang pergi bersama, karena Denise sebentar lagi menikah, dan Lanny akan segera sidang skripsi, setelah itu dia kembali ke Lombok.
Aku sadar kalau semakin jauh dengan Thea, dia terbawa Ruri yang selalu ikut dengan Velita pergi dugem tiap minggu, aku juga diajak tapi selain sibuk tugas uang juga menipis kalau terus-terusan ikut mereka, karena lebih banyak habis membeli bahan-bahan untuk tugas karya. Mereka sudah jarang pergi ke Restricted, sekarang mereka pindah ke Sonar Pulse sebuah klub baru yang lebih luas dan lebih keren. Pengawasanku jadi berkurang, aku merasa kehilangan kendali atas Thea. Beberapa kali kuingatkan supaya lebih fokus untuk kuliah juga, karena kulihat dia beberapa kali membolos kuliah gara-gara ngantuk.
Yang aku sebal dia mulai berdandan yang aneh-aneh, kadang dia memakai rok mini ke kampus. Bayangkan Thea dengan rok mini, bahkan di alam mimpiku pun tidak pernah muncul Thea dengan rok mini. Aku merasa kecolongan, merasa harga diriku menguap, karena Thea sahabatku sudah dinodai dunia. Thea adalah milik aku, semakin marah aku pada Thea semakin marah aku pada diriku sendiri.
Obsesi kurus mulai menjamur, Ruri mengajak Velita dan Thea aerobik bersama, tapi Velita cuma datang sekali saja sudah sakit semua badannya gara-gara kaku. Ruri dan Thea masih berjuang tapi Ruri nggak bisa menyetop nafsu makannya, jadi badannya nggak berubah banyak.
Thea yang sudah berubah banyak, badannya tambah kurus banyak dan lebih kencang, dietnya sangat ketat. Tapi matanya mencekung, lingkaran hitam menghiasi wajahnya, dan dia nggak pernah lupa pakai eyeliner walaupun sering melupakan bedak. Rasanya seperti melihat Corpse Bride karena kulitnya kan putih banget… Aku bolak-balik memarahinya supaya ingat merawat diri sendiri, tapi aku seperti anjing kalah ketika dia bilang “Memangnya kamu siapa? Kamu sendiri juga berantakan kok!”
Kecanduannya pada rokok terkuak begitu cepat ketika aku mengendus rambutnya pagi hari ketika kami sama-sama ada kuliah jam 8 pagi. Aku tahu persis kalau malamnya dia tidak pergi ke Sonar Pulse tidak ada alasan kenapa dia berbau rokok, “Kamu merokok?” tanyaku singkat, “Kayak kamu nggak aja.” Jawabannya singkat, padat, dan jelas. “Hey, aku bukan mau menasehatimu karena aku memang bukan contoh yang baik, tapi sebagai teman aku sudah mengingatkan kan? Sejak kapan kamu merokok?” aku separuh terkejut dan tidak percaya sebenarnya waktu tahu dia bisa-bisanya mulai merokok tanpa aku mengetahuinya, bahkan Ruri tidak mengatakan padaku! Belakangan aku tahu waktu mabuk dia dikerjai Denise dan Velita untuk mengisap rokok milik Denise, walaupun hanya mengisap dengan cara yang salah, waktu sadar Thea mencoba lagi dan entah kenapa dia memaksa diri untuk merokok?
Waktu Thea diam saja sambil mengendikan bahu dan kembali ke ponselnya untuk bersmsan, aku mencium bau-bau cowok, seperti apa pun bau itu aku tahu. Semakin mempercantik diri, merawat badan, lebih gencar berbelanja baju atau sepatu baru, dan sering memegang ponsel ketimbang berinteraksi dengan manusia di sebelahnya... Memang ada gejala yang lebih jelas? Atau virus sok seksi Ruri menular seperti virus flu??
“Sebenarnya kamu ada masalah apa? Apa ada masalah di rumah?” kesannya memang mendesak sih, tapi apa boleh buat aku sangat curiga ada apa-apa di rumah Thea, yah kondisi rumah tangganya.
Thea tertawa, “Apa sih? Nggak ada masalah apa-apa kok. Ah, paling ini sih, aku ada satu mata kuliah yang nyebellliiin banget, sampe aku nggak bisa lulus-lulus, Bapaknya itu loh, gayanya sok banget padahal cuma mata kuliah umum tapi kenapa sih…” terus dia mengoceh panjang lebar, gara-gara di awal semester sudah ditegur pakai sandal high heels ke kelas setelah itu Dosennya menganggap dia suka mencari gara-gara. Terus terang dari gaya ngocehnya itu saja sudah menyebalkan, dia sudah mirip separuh Velita dan separuh Ruri, bahkan aku melihat sedikit Gita disitu yang omong-omong sebentar lagi mau datang. Hanya saja keadaan yang mulai buruk menjadi benar-benar buruk setelah Gita datang membawa cowok-cowoknya.
“Haiiiii….. How are you guys!!!” teriak Gita begitu muncul dari lift hotel, kami bertemu dengan Gita di hotel tempat dia menginap dan sudah memesankan sebuah kamar tambahan untuk Ruri, Thea, dan aku di akhir pekan. Dandanannya juga se-lebay teriakannya di lobby, scarf motif zebra yang lebar, cardigan besar berwarna hijau muda, t-shirt abu-abu, dan legging hitam bergaris-garis putih, aksesoris kalung dari kayu, anting-anting bulat besar, sunglasses merk GUCCI, dan angkle boot coklat. Oya, tas boho merk Burberry tersampir di pundaknya.
“Oh… My… God…” Gita mengucapkan dengan nada yang super lebay menurutku, tapi setiap jeda dia memang seolah-olah meresapi momen yang dramatis itu. “THEA! Kamu kurus banget, girl! You look soooo good!! Wah, gila, gila, gila… Keren abis!” Sumpah rasanya aku mendengar logat Cinta Laura dari suara Gita, seolah-olah dia hanya menirukan gayanya, tau lah kayak nggak benar-benar pernah ke Amerika.
“Eh, Ruri! Nggak banyak berubah ya, tetep gembrot aja!” Gita lalu menyamarkan sindiran blak-blakannya dengan tawa yang menurutku gagal untuk menutupi hal itu. Ruri cuma tersenyum kecut, rasanya dia juga mau membalas tapi tidak bisa karena penampilan Gita jelas lebih keren menurut dia.
Gita lalu memeluk dan mencium kedua pipiku sambil menanyakan kabarku, tentu saja aku baik-baik saja. Lalu dibelakang Gita ada beberapa cowok, dua orang saudara Gita yang sebelum berkenalan sudah pamitan mau balik ke kantor soalnya ninggal kerjaan. Jadi masih ada 3 orang lagi, yang satunya blasteran Amrik namanya Jared, pacarnya Gita. Yang dua lagi ada Andre dan Reagan, kalau tidak salah Andre seumuran kami waktu itu berumur 20 tahun, kalau Reagan hanya setahun lebih tua.
Ruri langsung pasang ancang-ancang untuk menebar pesona pada Andre dan Reagan, padahal aku tahu pasti dia baru berjalan satu bulan dengan pacar yang entah ke berapanya itu. “Hai! Aku Ruri, kalian temennya Gita waktu di Amrik?”
“Oh, nggak, aku temen saudaranya Gita yang pergi duluan tadi, namaku Andre.” Andre wajahnya kayak Ariel, ex-vokalis band Peterpan, tapi jelas lebih keren Ariel sih. Andre gayanya santai, kaos oblong Billabong dan celana ¾ cowok dan sandal kulit. Dia menang memiliki bodi yang bagus, setidaknya dia pasti pergi ke gym seminggu 2-3 kali, senyumnya simpatik dan matanya ramah. Setidaknya waktu pertama kali kami bertemu kesannya seperti itu.
“Guys, kenalin nih pacar aku, Jared, don’t you think he’s cute??” begitu Gita bilang “cute” sampai bibirnya nyonyor langsung nyosor gitu aja ke pipi Jared yang ketawa-ketawa konyol. Keduanya pasti udah tidur bareng, dan jangan-jangan mengisap ganja bareng juga karena tampang mereka kayak orang separuh teler. Kelak kalau mereka menikah dan punya anak kasihan banget anaknya kalau sampai cuma menuruni IQ jongkok dan bertampang bloon.
“Terus ini temen aku, kakak kelasku ini baeeekkk banget. Dia sekarang ambil S2 di universitas kalian loh, pernah lihat nggak? Dunia itu sempit ya?” Gita nyerocos dengan nada sok Amerika gitu bikin telingaku tambah gatel.
“Hai, namaku Reagan.” Reagan nih cowok yang sopan banget dan pertama ketemu dia itu pendiam, heran kok bisa ya dia berteman dengan Gita yang kayak burung botak berkicau terus. Reagan tipe cowok kurus tinggi dan dia memakai kacamata. Oh, merknya Oakley. Pakaiannya rapi abis, kemeja slimfit warna biru tua garis-garis biru muda dan lengannya dilipat sampai siku. Jam tangannya Alexander Christie dengan kaca dari batu safir, cincin emas melingkar di jari telunjuk kirinya, dan sepatu Converse… Ada yang nggak nyadar kalau orang ini pasti asyik, kalau aku kenal dia duluan sebelum pacarku mungkin aku mempertimbangkannya sebagai gebetan.
Kami pergi ke mall dibagi menjadi dua kelompok naik mobil Jared dan Andre. Gita, Reagan, dan Ruri naik mobil Jared. Thea dan aku naik mobil Andre. Sepanjang perjalanan Thea dan Andre sering ngobrol, aku kadang-kadang ikut menimpali dan aku juga minta izin merokok di dalam mobil yang diizinkan Andre. Dia sendiri juga merokok ternyata, dan membuka jendela mobil supaya asap rokok kami bisa keluar. Anehnya Thea sama sekali tidak tergerak untuk merokok bersama kami, dia jaim banget.
Di mobil yang satunya, kayaknya ada yang stress diganggu Ruri, Reagan. Gita mengirim bbm padaku,
“Eh, Ruri lama-lama tambah ganjen abis deh, ak gak bs brenti ngakak tau! Reagan tuh barusan putus sama pacarnya, asli ak tau bnr seleranya dia kek ap, yg jls Ruri tuh uda di blacklist! :D :D :D”
Di mall kami nongkrong di Starbucks, setelah memesan minuman, akhirnya Gita cerita kalau dia kembali ke Indonesia untuk bertunangan dengan Jared, setelah mereka menikah nanti akan tinggal di Amerika karena Jared dan keluarganya memiliki bisnis rumah makan yang ramai di China Town. Gita tidak henti-hentinya bercerita tentang rencana-rencana pernikahannya, bahkan sampai aku pun jadi lengah dan tidak sadar kalau Thea sering diajak ngobrol dan bercanda dengan Andre.
Ruri bolak-balik salting sendiri pingin tebar pesona tapi sayangnya diantara kedua cowok itu tidak ada yang tertarik padanya, malah aku menangkap Jared kadang-kadang melirik ke dada Ruri yang saat ini sedang mengenakan tanktop v-neck. Akhirnya dia sebel sendiri, tapi yang lebih sinting, abis dia sadar Jared ngelirik dadanya malah balas mengedip ke Jared.
Akhirnya Gita meminta kami saling bertukar nomor ponsel dan pin Blackberry, setelah itu kami pergi ke Sushi Tei untuk makan siang bareng, yang rasanya lucu karena Reagan cenderung dekat denganku untuk menghindari serangan-serangan Ruri, Thea dekat dengan Andre dan sepertinya ada sesuatu diantara mereka, Ruri malah mendekat pada Jared sekedar ada yang bisa diajak flirting, dan Gita tidak menyadari itu lebih banyak ngoceh daripada memperhatikan Jared yang menanggapi pandangan menggoda Ruri sambil senyum-senyum bloon. Tiba-tiba ponselku berbunyi, itu Daniel pacarku, dia memberiku kejutan dengan menjemputku di mall dan ingin bertemu denganku jadi aku terpaksa meninggalkan mereka, karena Daniel datang dari jauh aku nggak mau dia bertemu dengan Ruri, bisa jengkel mampus aku.
Setelah pertemuan kami itu selama beberapa hari yang singkat, aku tidak menyangka ada yang aneh dengan Thea, dia sepertinya sedikit lebih ceria daripada biasanya. Aku sendiri sibuk dengan tugas kuliahku lagi yang semakin lama semakin menguras tenaga, setelah itu aku jadi sering bertemu dengan Reagan dia setahun lebih tua dari kami dan bisa segera berteman dengan akrab, tapi tampaknya yang mengganggu pikiran Thea sekaligus membuatnya ceria akhir-akhir ini bukan cowok ini.
Suatu hari Andre datang membawakan bunga untuk Thea, dan mereka pergi bersama. Mereka sering pergi bersama, satu-satunya yang positif dari hal ini cuma berkurangnya intensitas Thea pergi ke Sonar Pulse dengan Ruri dan Velita. Apalagi Velita sedang sibuk dengan pacar barunya, tinggal Ruri sendiri yang biasanya mengajak aku pergi, tapi aku nggak mau soalnya males banget Ruri tambah lama tambah kacau aja, aku pernah mendapati dia memasukan cowok ke dalam kamar. Waktu aku tanya ngapain masukin cowok ke kamar, dia bilang komputernya rusak jadi minta dibetulin sama temen, bullshit! Kalau benerin komputer ngapain pintunya ditutup selama 2 jam?
Pada hari pernikahan Denise kami semua datang, Thea mengajak Andre, bahkan anak SD sudah bisa nebak kalau mereka sudah pacaran. “Astaga, Thea akhirnyaaa… Hahahaha…” Beberapa orang langsung berkomentar, dan serentak mereka mendorong mereka untuk berciuman, “Ayo! Cium! Cium! Cium! Cium! Cium...” Tiba-tiba Andre mencium Thea tepat di bibirnya, langsung semuanya berteriak histeris. Sejak saat itu semuanya benar-benar sudah terlepas dari tanganku, Thea.
***
(bersambung ke Rédempteur II/2
Langganan:
Komentar (Atom)